Seorang Guru Sufi ditanya tentang 2 keadaan manusia: 1. Manusia rajin sekali ibadahnya, namun sombong, angkuh dan selalu merasa suci. 2. Manusia yang sangat jarang ibadah, namun akhlaknya begitu mulia, rendah hati, santun, lembut dan cinta dengan sesama. Lalu Sang Guru Sufi menjawab: “Keduanya baik;” Boleh jadi suatu saat si ahli ibadah yang sombong menemukan kesadaran tentang akhlaknya yang buruk dan dia bertaubat lalu ia akan menjadi pribadi yang baik lahir dan batinnya. Dan yang kedua bisa jadi sebab kebaikan hati-nya, Allah akan menurunkan hidayah lalu ia menjadi ahli ibadah yang juga memiliki kebaikan lahir dan batin. Kemudian orang tersebut bertanya lagi, “lalu siapa yang tidak baik kalau begitu…???” Sang Guru Sufi menjawab: “Yang tidak baik adalah kita, orang ketiga yang selalu mampu menilai orang lain, namun lalai dari menilai diri sendiri“. — Jalaludin Rumi —
Bilamana Allah menganugerahkan kepada kita akan nikmat Nabi Muhammad. Maka yang wajib kita lakukan sebagai hak Nabi Muhammad kepada kita. Mensyukuri nikmat tersebut kepada Allah dengan mengkaji mendalami sirahnya. Dengan mengetahui latar belakang Rasulullah agar supaya lahir di dalam hati ini kecintaan kepada baginda Rasulullah. Kalau pepatah mengatakan bahawasanya tak kenal maka tak sayang. Bagaimana menyayangi seseorang kalau kita tak mengenalinya. Oleh sebab yang demikian, daripada awal lagi Nabi meletakkan kurikulum kepada orang tua. Agar supaya diajarkan dengan kurikulum Nabi Muhammad SAW di dalam rumah adalah diajarkan tentang sirah baginda Rasulullah. Ajarkan kepada anak kamu tiga perkara. Yang pertama adalah mencintai Nabi kamu. Subhanallah! Baginda Rasulullah menyebutkan dalam hadis ini supaya mengajarkan kepada anak kamu cinta. Kalau begitu ada subjek namanya subjek cinta. . Bagaimana ia ada subjek namanya cinta. Maksudnya adalah ajarkan kepada mereka tentang sirah Nabi Mu...